Berita Terbaru

6/recent/ticker-posts

Kebakaran Hutan Besar di Korea Selatan: 26 Orang Tewas, Dua Situs Warisan Dunia Terancam

Jakarta, Olemah.com – Kebakaran hutan besar yang melanda Korea Selatan sejak akhir pekan lalu telah menyebabkan sedikitnya 26 orang tewas dan memaksa puluhan ribu warga mengungsi. Hingga Rabu (26/3/2025), api masih berkobar dan kini mengancam dua situs warisan dunia UNESCO.

Wilayah tenggara Korea Selatan menjadi daerah terdampak paling parah, dengan total luas lahan yang terbakar mencapai 17.398 hektar. Kementerian Dalam Negeri Korea Selatan melaporkan bahwa kebakaran di Uiseong menyumbang 87 persen dari total area terdampak.

Kebakaran Hancurkan Kuil Berusia 1.300 Tahun

Kebakaran telah menyebabkan kehancuran besar, termasuk merusak Kuil Gounsa, sebuah kuil bersejarah yang telah berdiri selama 1.300 tahun. Upaya perlindungan dilakukan oleh petugas Pusat Perawatan Warisan Budaya Gyeongbuk Seobu dengan memakaikan selimut tahan api pada patung emas Buddha untuk menghindari kerusakan lebih lanjut.

Menurut catatan sejarah, kebakaran kali ini merupakan yang terbesar kedua dalam sejarah Korea Selatan, setelah kebakaran pada April 2000 yang menghanguskan lebih dari 23.000 hektar lahan di pesisir timur.

Korban Jiwa dan Evakuasi Massal

Pejabat Kementerian Dalam Negeri dan Keselamatan Korea Selatan melaporkan bahwa selain korban tewas, terdapat 12 orang yang mengalami luka serius. Sebagian besar korban merupakan warga sipil, tetapi tiga petugas pemadam kebakaran juga dilaporkan tewas, termasuk seorang pilot helikopter yang gugur saat berusaha memadamkan api di daerah pegunungan.

Kebakaran ini juga merusak sejumlah permukiman, infrastruktur, serta jaringan komunikasi. Sekitar 27.000 orang telah dievakuasi dalam kondisi darurat untuk menghindari dampak lebih lanjut.

Tantangan Cuaca dan Perubahan Iklim

Penjabat Presiden Korea Selatan, Han Duck-soo, menyebut kebakaran ini sebagai bencana besar yang belum pernah terjadi sebelumnya.

"Kebakaran hutan yang terus menyala selama lima hari berturut-turut telah menyebabkan kerusakan yang luar biasa," ujar Han.

Upaya pemadaman mengalami hambatan akibat cuaca kering dan pola angin yang berubah-ubah. Pemerintah sempat mengerahkan helikopter pemadam kebakaran, tetapi operasi udara dihentikan setelah jatuhnya sebuah helikopter yang menewaskan pilotnya pada Rabu (26/3).

Dua situs warisan dunia UNESCO, yaitu Desa Rakyat Hahoe dan Byeongsan Seowon, kini dalam ancaman serius. Api hanya berjarak sekitar lima kilometer dari Desa Hahoe, yang terkenal dengan rumah-rumah beratap jerami dan nilai sejarahnya. Asap tebal menyelimuti desa, sementara tim pemadam kebakaran bekerja keras menyemprotkan air dan bahan kimia untuk melindungi situs bersejarah ini.

Kondisi ini diperburuk oleh cuaca ekstrem. Tahun lalu tercatat sebagai tahun terpanas dalam sejarah Korea Selatan, dengan suhu rata-rata mencapai 14,5 derajat Celsius—dua derajat lebih tinggi dari rata-rata selama tiga dekade sebelumnya. Curah hujan yang rendah menyebabkan kekeringan parah, memperbesar risiko kebakaran.

Para ilmuwan mengaitkan peningkatan kejadian cuaca ekstrem, termasuk kebakaran hutan, dengan perubahan iklim global. Fenomena seperti gelombang panas, hujan lebat, dan badai tropis disebut sebagai hasil dari kombinasi berbagai faktor lingkungan yang semakin kompleks.

Upaya Penanggulangan dan Pemulihan

Pemerintah Korea Selatan telah mengerahkan ribuan petugas pemadam kebakaran dan relawan untuk menangani bencana ini. Selain itu, tim ahli lingkungan bekerja sama dengan UNESCO untuk menyelamatkan situs warisan dunia yang terdampak.

Meskipun upaya pemadaman terus dilakukan, api masih sulit dikendalikan akibat kondisi cuaca yang tidak bersahabat. Pemerintah juga sedang menyiapkan bantuan bagi warga yang kehilangan tempat tinggal akibat kebakaran ini.

Dengan kebakaran yang masih berkobar, situasi di Korea Selatan terus berkembang, dan jumlah korban serta kerusakan diperkirakan masih bisa bertambah dalam beberapa hari ke depan.

(Sumber Berita:KOMPAS.com)



Posting Komentar

0 Komentar