Nabire, olemah.com – Di tengah sejarah panjang yang tercatat dengan darah dan pertempuran, suara berani muncul dari kalangan pelajar di Tanah Papua. Mereka, yang tak gentar melawan kebijakan yang dianggap merugikan dan tidak mencerminkan kepentingan mereka, kini memperjuangkan hak atas pendidikan yang setara. Meskipun buku bukan senjata dan kata bukan peluru, mereka dengan tegas menulis perlawanan yang tak akan padam.
Gerakan pelajar yang kini dikenal dengan nama Solidaritas Pelajar West Papua (SPWP), menjadi simbol perlawanan terhadap kebijakan yang dianggap tidak adil, seperti program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang mereka tolak. Selain memperjuangkan hak atas pendidikan yang layak, mereka juga menuntut masa depan yang lebih adil bagi seluruh masyarakat Papua.
"Mereka bukanlah pengikut bisu. Mereka adalah pembela hak, bukan bayangan semu. Kami, pelajar, tidak hanya berdiri di pinggir sejarah, kami adalah bagian dari nyala api yang terus berkobar," ungkap salah satu anggota SPWP dalam aksi mereka.
Namun, perjuangan ini tidak berjalan mulus. Tindakan mereka untuk menuntut hak atas pendidikan gratis dan menolak kebijakan yang dianggap tidak memadai menghadapi tantangan besar, termasuk upaya pembungkaman oleh pihak berwenang. Demonstrasi yang mereka lakukan, yang seharusnya menjadi ruang untuk menyampaikan aspirasi, sering kali dibubarkan dengan kekerasan oleh aparat kepolisian maupun oknum tenaga pendidik atau ASN Dinas Pendidikan Nabire.
Kejadian yang sangat mengecewakan terjadi ketika seorang guru atau oknum ASN menendang seorang siswa SMP yang tengah berjuang untuk mendapatkan pendidikan gratis, bukan sekedar makanan gratis. Salah seorang siswa yang menyaksikan peristiwa tersebut mengatakan, “Kami siswa lebih berwibawa dibandingkan dengan bapa yang berseragam. Mereka adalah orang asli Papua, tetapi pola pikirnya tidak mencerminkan nilai-nilai pendidikan. Kami berharap Pemerintah Provinsi Papua Tengah dapat mengambil tindakan tegas karena seorang pendidik yang bermoral seperti ini hanya akan menghancurkan kami para siswa.”
Meski mendapat hambatan, semangat para pelajar ini tak pernah padam. Mereka dengan tegas menyatakan, "Suara kami takkan sirna. Kebenaran akan terus menyala." Gerakan ini membuktikan bahwa suara muda di Tanah Papua merupakan kekuatan yang tak akan pernah terkubur.
Gerakan pelajar, yang sering kali menjadi motor penggerak dalam perjuangan sosial dan politik, kembali mencatatkan kiprahnya dalam menuntut hak-hak dasar, termasuk hak atas pendidikan. SPWP mengingatkan kita bahwa pelajar bukan hanya sekedar penerima pendidikan, tetapi juga bagian dari perjuangan untuk masa depan yang lebih adil dan berkeadilan.
Dengan keteguhan mereka, perjuangan ini menunjukkan bahwa meskipun tantangan berat dihadapi, suara pelajar tetap menggema. Mereka akan terus berjuang demi hak mereka dan untuk generasi mendatang, hingga kebenaran dan keadilan benar-benar terwujud.
(Penulis: Gobai)
0 Komentar